Selasa, 07 April 2026

“Malam Penuh Cahaya dan Maaf: Harmoni Lailatul Ijtima’ NU Meduri Menganyam Ukhuwah dalam Balutan Halal Bihalal”

Meduri - 5 April 2026, suasana religius dan penuh kehangatan menyelimuti Masjid At-Taqwa, Dusun Besali, Desa Meduri. Sejak pukul 20.00 hingga 23.30 WIB, ratusan jamaah memadati masjid dalam rangka mengikuti kegiatan Lailatul Ijtima’ yang diselenggarakan oleh Ranting NU Meduri, yang sekaligus dirangkai dengan acara Halal Bihalal.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh jamaah masjid, jajaran struktural NU Ranting Meduri, serta badan otonom NU seperti Muslimat, Ansor, Banser, Fatayat, dan IPNU. Turut hadir pula Ketua MUI Desa Meduri, para tokoh agama, tokoh masyarakat, Kepala Dusun Besali, serta perangkat dusun setempat. Kehadiran berbagai elemen ini mencerminkan kuatnya sinergi dan kebersamaan dalam membangun kehidupan sosial keagamaan yang harmonis.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menyejukkan hati, seakan mengundang keberkahan untuk seluruh yang hadir. Suasana semakin khidmat ketika jamaah bersama-sama melantunkan sholawat Nabi dengan berdiri (bilqiyam), menghadirkan nuansa cinta yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ.

Memasuki sesi sambutan, perwakilan takmir masjid, Bapak Parnadi, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Dusun Besali yang menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan kebersamaan warga.

Ketua Ranting NU Meduri, Bapak Eko Sunarno, dalam sambutannya menyampaikan ucapan Halal Bihalal kepada seluruh jamaah. Ia juga memberikan apresiasi yang tulus kepada panitia, takmir masjid, pemerintah dusun, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara tersebut. Ucapannya mengalir hangat, memperkuat rasa persaudaraan yang terjalin di tengah masyarakat.

Puncak acara diisi dengan Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo. Dengan gaya tutur yang penuh hikmah dan menyentuh, beliau menyampaikan pesan Halal Bihalal serta mengapresiasi seluruh pihak yang senantiasa istiqomah dalam menjaga harmonisasi kehidupan bermasyarakat.

Dalam tausiyahnya, beliau menguraikan empat golongan manusia yang akan mendapatkan keamanan di alam kubur sekaligus termasuk orang-orang yang memperoleh petunjuk, yaitu: pertama, orang yang ketika diberi nikmat mau bersyukur; kedua, orang yang ketika mendapat cobaan bersabar; ketiga, orang yang ketika berbuat salah mau meminta maaf; dan keempat, orang yang ketika didzalimi mau memaafkan. Pesan ini disampaikan dengan penuh kedalaman, menyentuh relung hati para jamaah, seakan mengajak setiap individu untuk merenung dan memperbaiki diri.

Sebagai penutup, doa dipimpin oleh Kiyai Sarino selaku Ketua Takmir Masjid At-Taqwa. Dengan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan sebagai harapan agar kebersamaan malam itu membawa keberkahan, mempererat ukhuwah, serta menjadikan masyarakat Meduri senantiasa dalam lindungan dan rahmat Allah SWT.

Getaran kebersamaan yang terbangun sepanjang malam itu seakan belum ingin beranjak pergi. Usai doa dipanjatkan, para jamaah saling bersalaman dalam suasana Halal Bihalal yang penuh keharuan. Tangan-tangan yang saling menggenggam menjadi simbol luruhnya segala khilaf, sementara senyum yang merekah menggambarkan keikhlasan untuk kembali memulai lembaran baru dalam bingkai persaudaraan.

Di sudut-sudut masjid, tampak para tokoh agama, pemuda, hingga orang tua berbaur tanpa sekat. Percakapan hangat mengalir, membahas kehidupan, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen bersama untuk terus menjaga kerukunan di tengah masyarakat. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa Lailatul Ijtima’ bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang spiritual dan sosial yang mampu merawat harmoni umat.

Kegiatan ini juga mencerminkan kuatnya nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjadi landasan Nahdlatul Ulama dalam membangun peradaban masyarakat yang damai, toleran, dan penuh kasih sayang. Sinergi antara ulama, umara, dan masyarakat terlihat begitu kokoh, menghadirkan optimisme akan masa depan Desa Meduri yang semakin rukun dan religius.

Dengan berakhirnya rangkaian acara, para jamaah perlahan meninggalkan masjid dengan hati yang lebih lapang dan jiwa yang lebih tenang. Malam itu telah menorehkan kesan mendalam—bahwa dalam kebersamaan, ada kekuatan; dalam maaf, ada kemuliaan; dan dalam istiqomah, tersimpan harapan akan keberkahan hidup.

Lailatul Ijtima’ Ranting NU Meduri malam itu bukan hanya menjadi catatan kegiatan, tetapi juga menjadi kisah indah tentang persaudaraan, ketulusan, dan cinta kepada agama yang terus hidup di tengah masyarakat. Sebuah harmoni yang, insyaAllah, akan terus terjaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.