Rapat dihadiri oleh seluruh unsur panitia yang selama ini terlibat aktif dalam menyukseskan Pengajian Akbar IHM. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran MWCNU Margomulyo, PAC Muslimat NU Margomulyo, PAC Fatayat NU, PAC GP Ansor, SATKORYON Banser, PAC IPNU, serta LPNU/BMT NU Margomulyo. Kehadiran seluruh elemen ini menjadi bukti bahwa kesuksesan agenda besar Nahdlatul Ulama di Margomulyo merupakan hasil kerja kolektif lintas badan otonom dan lembaga NU yang dilandasi semangat gotong royong serta khidmah kepada jam'iyah.
Karena Ketua Panitia sekaligus Ketua PAC Muslimat NU Margomulyo, Ibu Rukmiati, berhalangan hadir, laporan pertanggungjawaban panitia disampaikan oleh panitia lokal yang diwakili Bapak Tri Maryono. Dalam laporannya, beliau menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, dan waktunya demi suksesnya penyelenggaraan Pengajian Akbar IHM.
Menurutnya, keberhasilan acara tersebut merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan seluruh struktur Nahdlatul Ulama hingga warga NU secara umum. Ia mengakui bahwa besarnya kegiatan tersebut berada di luar perkiraan dan kapasitas awal panitia, namun dengan kebersamaan serta semangat saling membantu, seluruh rangkaian acara dapat terlaksana dengan baik.
"Acara kemarin benar-benar di luar batas kemampuan kita. Namun apa pun yang terjadi, panitia telah berupaya semaksimal mungkin. Alhamdulillah, kita mampu membuktikan bahwa kegiatan IHM dapat terlaksana dengan sukses berkat dukungan seluruh pihak," ungkapnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kiai Badrun selaku Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam arahannya, beliau menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan pengurus yang telah memberikan dukungan penuh sejak tahap persiapan hingga berakhirnya kegiatan.
Beliau menegaskan bahwa Kecamatan Margomulyo yang hanya memiliki enam ranting NU telah berhasil menunjukkan kapasitasnya dalam menyelenggarakan sebuah agenda besar dengan baik. Keberhasilan tersebut, menurutnya, bukan semata-mata karena kemampuan individu, melainkan buah dari persatuan, kekompakan, dan keikhlasan seluruh warga Nahdliyin.
"Margomulyo hanya memiliki enam ranting, tetapi kita telah membuktikan mampu menyelenggarakan event spektakuler ini dengan sebaik-baiknya. Kalaupun masih ada kekurangan-kekurangan kecil, itu sangat manusiawi. Kita bukan malaikat, kita hanyalah manusia lemah yang berusaha memberikan ikhtiar terbaik demi meneguhkan khidmah kepada jam'iyah yang merupakan amanah para guru dan kiai kita. Semoga seluruh amal baik ini dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT," tutur beliau.
Suasana rapat berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan. Selain menjadi forum evaluasi, pertemuan ini juga menjadi momentum mempererat ukhuwah antar pengurus dan panitia yang selama beberapa waktu terakhir bahu-membahu menyukseskan hajatan besar warga Nahdlatul Ulama di Kecamatan Margomulyo.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti sesi ramah tamah yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal dengan istilah "sungsuman", yakni makan bersama sebagai ungkapan syukur setelah selesainya sebuah hajatan besar. Salah satu hidangan yang disajikan adalah jenang sungsung atau bubur sungsung, makanan tradisional yang dalam budaya Jawa diyakini sebagai simbol pemulihan tenaga dan penghilang rasa lelah setelah bergotong royong membantu suatu hajatan.
Tradisi sederhana namun sarat makna tersebut menjadi penutup yang indah bagi perjalanan panjang kepanitiaan Pengajian Akbar IHM. Lebih dari sekadar menikmati hidangan bersama, momen itu menjadi simbol bahwa setiap pengabdian yang dilakukan dengan keikhlasan akan selalu meninggalkan jejak persaudaraan, memperkuat semangat kebersamaan, serta menjadi energi baru untuk terus berkhidmah kepada agama, masyarakat, dan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.
